Momok Lelah atau Menyerah
Hari ini lelah itu seperti momok menyeramkan
Terkadang kita ada di fase harus bicara namun diri penuh noda
Terlihat namun mengharap tak terpandang itu berat
Ringan melangkah pada hal yang tak diingin hampir mustahil
Bertahan dengan tanpa cinta membuat lelah mejadi makanan setiap detiknya
Berlebihan memang, tapi nyatanya kita sering teringat untuk berhenti
Bertanggung jawab atas apa yang rasanya dipaksa
Lain cerita jika itu jalan yang kita terpaksa
Mungkin diri yang bergerak
Mungkin masih ada harap baik-baik saja
Jika oranglain yang menyeru kemudian kita tak mampu berhenti
Melangkah maju pun seolah membentuk kemunafikan diri
Kenapa bisa manusia yang menggerakkan, bukan hati ?
Niat membantu jadi ladang orang lain menginjak dengan status yang tak bisa dilepas
Aahh, lemah.
Tapi bukankah generasi strowberi itu adalah kamu ?
Perasaan jadi standart, berjalan dengan kebenaran itu pilihan
bukan tujuan.
Nyatanya kita masih perlu sekali lagi bahkan berulang
Untuk mendengar nasehat dan motivasi
Banyak tujuan dan semangat yang luntur
Kita perlu mencari penyelamat, bukan zona nyaman
Sebab sakit dan lelah adalah konsekuensi hidup
Bukan neraka
Sebab surga nyatanya diraih dengan rasa sukar bukan canda tawa tiap harinya
Kuatlah, masih ada masa depan yang harus diukir
Melangkah saja meski tidak sempurna dan penuh lumpur
Tuhan menilai usaha, bukan hasil
Biarlah toxic people yang ada bersuara
Kita hanya perlu sekuat tenaga untuk menutup telinga
Dan mengukir cerita kita, sebab berhasil bukan ditangan mereka
Tapi Islam dan Kita
Jangan menyerah!
Sebab keputusan menjadi lebih rendah adalah dengan menyerah
Comments
Post a Comment